3 Macam Jenis Riba Yang Perlu Anda Ketahui

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah). Muhammad Asy Syarbiniy telah memberikan pendapatnya tentang definisi riba.

Menurutnya, riba adalah, “Suatu akad/ transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya” (Mughnil Muhtaj, 6: 309).

Dalil Al-Qur’an dan juga hadist yang mengharamkan riba antara lain adalah, “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275).

Kemudian dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?”.

Beliau mengatakan, “(1) Menyekutukan Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) melarikan diri dari medan peperangan, (7) menuduh wanita yang menjaga kehormatannya (bahwa ia dituduh berzina)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaknat para rentenir (pemakan riba), yang mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam mu’amalah ribawi.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.”.

Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama (dalam melakukan yang haram)” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, penting bagi anda untuk mengetahui jenis-jenis riba. Tentunya, sebagai upaya untuk menghindarinya.

Berikut ini adalah 3 Macam Jenis Riba:

1. Riba Fadhl

Jenis riba ini terjadi tatkala terjadi kegiatan jual beli atau pertukaran barang-barang ribawi, namun dengan kadar atau takaran yang berbeda.

Contoh kasusnya: Menukar emas 24 karat dengan 18 karat, atau menukar pecahan uang sebesar 100 ribu dengan pecahan dua ribu.

Namun jumlahnya hanya 48 lembar, sehingga total uang yang diberikan hanya 96 ribu.

2. Riba Yad

Riba yad terjadi saat proses jual-beli barang ribawi maupun non ribawi, disertai penundaan serah terima kedua barang yang ditukarkan atau penundaan terhadap penerimaan salah satunya.

Riba yad terjadi ketika proses transaksi tidak menegaskan berapa nominal harga pembayaran.

Jadi, saat proses tersebut, tidak ada kesepakatan sebelum serah terima.

Contoh kasusnya, ada orang yang menjual motor dan menawarkan barang seharga 12 juta jika dibayar tunai, namun jika dicicil menjadi 15 juta.

Baik si penjual maupun pembeli sama-sama tidak menyepakati berapa jumlah yang harus dibayarkan hingga akhir transaksi.

3. Riba Nasi’ah

Riba nasi’ah terjadi tatkala ada proses jual-beli dengan tempo tertentu.

Transaksi tersebut dilakukan dengan dua jenis barang ribawi yang sama namun dengan penangguhan penyerahan atau pembayaran.

Contoh kasusnya, si B membeli emas dengan jangka waktu dan tempo yang ditentukan, baik dilebihkan atau tidak.

Padahal seharusnya jika sudah membeli emas, ia harus membelinya kontan atau menukarnya secara langsung.

Contoh lainnya, misal ada dua orang yang ingin bertukar emas 24 karat. Pihak pertama sudah memberikan emas pada pihak kedua.

Namun pihak kedua mengatakan baru akan menyerahkannya sebulan lagi. Kondisi ini masuk dalam kategori riba nasi’ah. Karena harga emas bisa saja berubah sewaktu-waktu.

Sumber : Merdeka.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *